Dengerin lagu-lagu hits dan berita terupdate hanya di Radio Mercu Buana.

Lifestyle cara kita hidup atau cara kita terlihat?

Sumber : Freepik

Halo Rekan Buana!
Sekarang coba deh jujur berapa kali Rekan Buana nge posting sesuatu bukan cuma buat dokumentasi, tapi juga biar terlihat? Entah itu kopi lucu di kafe, outfit hari ini, atau rutinitas pagi yang estetik. Di era sekarang, lifestyle emang udah bukan sekadar cara kita hidup, tapi juga cara kita nunjukin diri ke orang lain.

Kalau dilihat dari kacamata teori, hal ini sebenarnya udah lama dibahas. Pierre Bourdieu lewat konsep habitus bilang kalau gaya hidup kita itu kebentuk dari lingkungan, pendidikan, dan pengalaman hidup. Jadi, selera kita, mau nongkrong di coffee shop tertentu atau suka gaya minimalis itu bukan muncul tiba-tiba, tapi hasil dari kebiasaan yang udah lama kebentuk.

Di sisi lain, Thorstein Veblen ngenalin konsep conspicuous consumption, yaitu kebiasaan konsumsi yang tujuannya buat nunjukin status sosial. Kalau dipikir-pikir, ini relate banget sama fenomena sekarang. Banyak orang tanpa sadar memilih lifestyle tertentu karena pengen terlihat sesuai standar tertentu, entah itu terlihat produktif, estetik, atau bahkan flexing.

Tapi Rekan Buana, lifestyle bukan cuma soal ikut arus. Anthony Giddens punya pandangan bahwa di era modern, kita justru punya kebebasan buat ngebentuk identitas diri lewat pilihan hidup. Dalam konsep proyek diri, kita bisa milih mau jadi versi diri yang seperti apa, apakah fokus ke self growth, kesehatan, relasi sosial, atau bahkan keseimbangan semuanya.

Masalahnya, kebebasan ini sering tertutup dengan tekanan sosial dari media digital. Platform seperti Instagram dan TikTok punya peran besar dalam ngebentuk standar lifestyle. Tren seperti that girl routine, clean aesthetic, atau soft life sering bikin kita ngerasa harus ngikutin pola tertentu biar dianggap ideal. Padahal, yang kita lihat di layar sering kali cuma potongan terbaik dari kehidupan orang lain.

Sumber : Freepik

Fenomena ini bikin banyak orang tanpa sadar membandingkan hidupnya sendiri. Akibatnya, lifestyle yang seharusnya personal malah jadi kompetitif. Kita jadi lebih fokus ke kelihatan hidupnya bagus daripada benar-benar menikmati proses hidup itu sendiri.

Padahal, kalau ditarik ke esensi awalnya, lifestyle itu harusnya tentang kenyamanan dan keberlanjutan. Nggak harus selalu estetik, nggak harus selalu mahal, dan nggak harus selalu sesuai tren. Kadang, lifestyle paling sehat justru yang sederhana tapi konsisten kayak cukup istirahat, punya waktu buat me time, dan nggak terlalu keras sama ekspektasi sosial.

Jadi Rekan Buana, penting banget buat mulai sadar,  apakah lifestyle yang kita jalanin sekarang benar-benar kita pilih, atau cuma hasil dari pengaruh sekitar? Karena pada akhirnya, gaya hidup yang paling worth it itu bukan yang paling dilihat orang, tapi yang paling cocok buat diri kita sendiri.