Gen Z malas, gen Z lemah, gen Z baperan dan gen Z penakut emang benar ya Rekan Buana? Banyak konten kreator yang kerap membahas karakteristik pekerja Gen Z, bahkan sering kali membanding-bandingkan mereka dengan generasi sebelumnya, seperti generasi milenial, gen X dll.
Tidak sedikit yang memberikan stigma negatif kepada generasi Z, seperti pemalas, kurang etika kerja, sulit diajak berkomunikasi, hingga baperan. Tentu saja, generalisasi seperti ini tidak adil dan terlalu menyederhanakan kompleksitas perilaku dan pengalaman kerja dari sekelompok besar individu.
Leonardo Arya atau yang biasa kita kenal Onad mengatakan disalah satu podcast youtube bahwasanya etos kerja gen Z itu sangat kurang, walaupun Onad mengakui kalau gen Z memang lebih inovatif, dan kreatif. “Gue kan juga punya kantor ya, kalau gen Z gue gaterima aja. Mau dia sepinter apa kek menurut gue tetap aja etos kerjanya kurang” ucap Onad
Lalu ada konten kreator yang bernama Arsjad Rasjid, beliau mengatakan di dalam salah satu video TikTok pribadinya mengenai stigma negatif yang diberikan kepada gen-z “Kemalasan tidak bisa di ukur rata untuk suatu generasi. Malas atau tidak, lemah atau kuat semua itu kembali ke mindset setiap orang. Ada yang punya Fixed Mindset yang cenderung menghindari tantangan dan muda menyerah, sebaliknya ada yang punya Growth Mindset yang terus mau belajar dan berkembang.”
Namun, apa yang sebenarnya yang terjadi di dunia kerja dengan Gen Z? Apakah benar mereka lebih “lemah” atau “kurang kompeten” dibandingkan generasi sebelumnya? Atau mungkin ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi persepsi ini?
Fenomena Burnout di Kalangan Gen Z

Fenomena burnout merupakan salah satu alasan kenapa banyak dari kalangan gen Z resign dari kerjaan. Menariknya, data menunjukkan bahwa Gen Z lebih rentan mengalami burnout dibandingkan generasi lainnya. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Beberapa studi menunjukkan bahwa Gen Z tumbuh di era digital yang sangat cepat dan serba instan, di mana informasi mengalir tanpa henti. Contohnya di tahun 2000 an masyarakat baru mengenal istilah smartphone sehingga gen Z sejak kecil sudah belajar penggunaan smartphone berbeda dengan generasi lain yang baru belajar di usia dewasa atau bahkan di usia tua sehingga kemampuan mempelajari penggunaan smartphone tidak secepat gen Z sehingga kita sering menjumpai seorang bapak-bapak atau ibu-ibu yang gaptek atau gagap teknologi.
Teknologi yang seharusnya mempermudah pekerjaan malah sering kali menciptakan tekanan lebih besar, terutama dengan ekspektasi untuk selalu terhubung dan tersedia. Keberadaan teknologi yang mempercepat dan mempermudah aktivitas manusia segala bidang tentunya merupakan keuntungan bagi masyarakat.
Namun di sisi lain, kemudahan dan kecepatan yang dari kemajuan teknologi juga dapat mengurangi proses usaha keterlibatan manusia di dalamnya sehingga hal ini menjadi akar stigma masyarakat menganggap gen Z merupakan gen yang malas dan serba ingin instan karena kemajuan teknologi tersebut. Selain itu, Gen Z sering kali berhadapan dengan ketidakpastian ekonomi, kompetisi kerja yang semakin ketat, dan tuntutan untuk sukses di usia muda, yang berujung pada stres dan kelelahan mental.
Ekspektasi dan Realitas di Dunia Kerja

Salah satu sumber kesalahpahaman tentang Gen Z di tempat kerja mungkin berasal dari perbedaan ekspektasi antara generasi yang lebih tua dan generasi Z. Gen Z dikenal sebagai generasi yang sangat menghargai keseimbangan hidup dan pekerjaan (work-life balance).
Mereka lebih memilih perusahaan yang memberikan fleksibilitas, ruang untuk berkreasi, dan lingkungan kerja yang inklusif. Namun, dalam struktur kerja yang masih diwarnai oleh gaya manajerial tradisional, preferensi ini sering kali dianggap sebagai bentuk “kemalasan” atau “kurang ambisi.”
Faktanya, banyak Gen Z yang justru menunjukkan etos kerja yang kuat ketika diberi kesempatan dan lingkungan yang mendukung. Mereka kreatif, inovatif, dan sering kali punya pemikiran out-of-the-box yang bisa menjadi kekuatan besar bagi perusahaan. Tantangannya adalah bagaimana mengintegrasikan mereka ke dalam tim yang multi-generasi, di mana perbedaan perspektif bisa menjadi aset, bukan penghalang.





bagaimana mengintegrasikan mereka ke dalam tim yang multi-generasi, di mana perbedaan perspektif bisa menjadi aset, bukan penghalang.