Dengerin lagu-lagu hits dan berita terupdate hanya di Radio Mercu Buana.

Dari Yoga hingga Mindfulness: Mengapa Liburan Slow Living Makin Diminati Tahun Ini

Sumber : Freepik
Sumber : Freepik

Pernahkah Anda merasa butuh liburan setelah baru saja pulang liburan? Jadwal perjalanan yang padat, antrean panjang di tempat wisata viral, hingga ambisi berburu foto demi konten media sosial sering kali justru membuat tubuh dan pikiran makin lelah.

Melihat fenomena tersebut, tidak heran jika tren pariwisata di tahun 2026 ini bergeser secara drastis. Rekan Buana, saat ini masyarakat urban mulai meninggalkan gaya liburan konvensional yang serba cepat dan beralih ke tren Slow Living Holiday. Liburan jenis ini mengutamakan kualitas pengalaman, ketenangan, serta koneksi mendalam dengan diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Lantas, mengapa tren yang identik dengan aktivitas yoga dan mindfulness ini begitu diminati? Mari kita bedah fenomena ini secara mendalam.

1. Mengapa Tren ini Meledak Sekarang?

Memasuki pertengahan tahun 2026, tingkat kejenuhan masyarakat terhadap ritme kerja digital yang serba cepat mencapai puncaknya. Istilah burnout bukan lagi hal baru. Oleh karena itu, liburan tidak lagi hanya sekadar ajang rekreasi atau pamer estetika, melainkan sudah menjadi kebutuhan terapi kesehatan mental (wellness tourism).

Aktivitas seperti yoga di tepi pantai yang sepi, meditasi (mindfulness) di tengah hutan, hingga sekadar menikmati secangkir teh tanpa intervensi notifikasi ponsel, menjadi penawar rindu bagi jiwa-jiwa yang lelah.

Sumber : Freepik
Sumber : Freepik

2. Siapa yang Memulai Tren Ini?

Tren slow living holiday ini dipelopori oleh generasi milenial dan Gen Z yang mulai menyadari pentingnya work-life balance. Rekan Buana, mereka adalah kelompok yang paling vokal dalam mengampanyekan kesehatan mental. Bagi generasi ini, kemewahan sebuah liburan tidak lagi diukur dari seberapa mahal hotelnya atau seberapa terkenal destinasinya, melainkan seberapa tenang pikiran mereka saat berada di sana.

3. Di Mana Destinasi Favoritnya?

Untuk mendukung konsep slow living, destinasi yang dipilih pun bergeser dari pusat kota yang bising ke tempat-tempat yang lebih dekat dengan alam. Di Indonesia, kawasan seperti Ubud dan Sidemen (Bali), Desa Wisata di Yogyakarta, hingga dataran tinggi Munduk menjadi primadona. Di tingkat regional, pedesaan di Kyoto (Jepang) atau Chiang Mai (Thailand) juga menjadi destinasi impian untuk menikmati ketenangan.

Sumber : Freepik
Sumber : Freepik

4. Apa Saja yang Dilakukan Selama Liburan?

Konsep utama dari liburan ini adalah menikmati momen saat ini. Aktivitas yang dilakukan sangat kontras dengan liburan biasa, antara lain:

Digital Detox: Mematikan gawai atau membatasi akses media sosial untuk benar-benar hadir di dunia nyata.

Mindful Eating: Menikmati kuliner lokal berbahan organik secara perlahan, menghargai rasa dan proses pembuatannya.

Therapeutic Activities: Mengikuti kelas yoga pagi, sesi meditasi, berjalan kaki di alam (forest bathing), atau membaca buku di alam terbuka.

5. Bagaimana Cara Memulainya?

Rekan Buana, jika Anda tertarik untuk mencoba liburan gaya baru ini, caranya tidak sulit. Kuncinya ada pada perencanaan yang longgar:

Pangkas Itinerary: Cukup pilih 1 atau 2 aktivitas utama dalam sehari. Jangan membuat jadwal yang ketat.

Pilih Akomodasi yang Tepat: Cari penginapan yang menyatu dengan alam atau memiliki suasana tenang, abai terhadap hiruk-pikuk kota.

Ubah Mindset: Ingat bahwa tujuan Anda adalah memulihkan energi, bukan mengejar target destinasi wisata.Liburan slow living mengajarkan kita bahwa hidup bukanlah sebuah perlombaan untuk menghabiskan daftar bucket list. Pada akhirnya, pulang liburan dengan pikiran yang jernih dan tubuh yang segar jauh lebih berharga daripada pulang dengan ratusan foto di galeri ponsel tetapi pikiran tetap terasa kosong.

Bagaimana dengan Rekan Buana? Sudah siap menjadwalkan slow living holiday Anda berikutnya?