Dengerin lagu-lagu hits dan berita terupdate hanya di Radio Mercu Buana.

Anti-FOMO saat Liburan: Panduan Menikmati JOMO (Joy of Missing Out) Tanpa Harus Sibuk Update Medsos

Sumber : Freepik
Sumber : Freepik

Pernah gak sih, Rekan Buana lagi jalan-jalan di tempat wisata yang pemandangannya bagus banget, tapi bukannya menikmati suasana, kamu malah sibuk nyari sinyal demi bisa unggah video di Instagram? Atau malah sibuk ngecek berapa banyak orang yang view dan like postingan liburanmu? Bukannya dapet ketenangan, pikiran kita malah capek karena terjebak sindrom FOMO (Fear of Missing Out) alias takut dianggap kurang eksis oleh dunia maya. Kalau liburanmu masih seperti ini, mungkin ini saatnya kamu berkenalan dengan JOMO (Joy of Missing Out).

Secara harfiah, JOMO adalah perasaan bahagia ketika kita memilih untuk tidak peduli dengan apa yang sedang ramai dilakukan orang lain. Dalam konteks liburan, JOMO berarti seni menikmati setiap detik perjalanan secara nyata, tanpa merasa punya kewajiban untuk memamerkannya ke media sosial. Singkatnya, ini adalah momen di mana kamu benar-benar hadir di tempat liburan tersebut, bukan cuma hadir lewat dunia maya.

Sumber : Freepik
Sumber : Freepik

Fenomena ini mulai gencar dikampanyekan oleh para pelancong yang sadar bahwa kesehatan mental mereka perlahan terkikis oleh validasi netizen. Pelakunya kini banyak dari kalangan generasi muda yang mulai jenuh dengan standar estetika media sosial. Mereka biasanya menerapkan JOMO ini saat pergi ke tempat-tempat yang tenang, seperti pantai yang sepi, staycation di tengah hutan, atau sekadar jalan-jalan santai di sudut kota tua. Kapan waktu terbaik buat mencobanya? Jawabannya adalah sekarang, terutama pas kamu ngerasa liburanmu udah gak bikin bahagia tapi malah bikin tertekan karena harus mikirin konten terus.

Sumber : Freepik
Sumber : Freepik

Mengapa kita harus mulai mencoba JOMO saat liburan? Alasan utamanya adalah demi mengembalikan fungsi asli dari liburan itu sendiri, yaitu mengistirahatkan otak. Saat kita sibuk mencari sudut foto yang sempurna, mengetik caption, dan membalas komentar, otak kita sebenarnya tidak sedang beristirahat. Sebaliknya, dengan mematikan data seluler atau sengaja meninggalkan HP di kamar hotel, kita memberi kesempatan pada mata dan pikiran untuk benar-benar merekam keindahan alam sekitar secara langsung. Memori yang disimpan di kepala jauh lebih abadi ketimbang yang tersimpan di galeri ponsel.

Sumber : Freepik
Sumber : Freepik

Lalu, gimana panduan praktis buat memulai liburan anti-FOMO ini? Langkah pertamanya sederhana tapi butuh komitmen: buat kesepakatan dengan diri sendiri. Kamu tetap boleh mengambil foto sebagai dokumentasi pribadi, tapi janjikan pada diri sendiri bahwa foto-foto itu baru boleh diunggah setelah kamu sampai di rumah nanti. Selama di tempat wisata, simpan HP di dalam tas. Alihkan fokusmu untuk merasakan embusan angin, mencicipi makanan lokal dengan tenang, atau mengobrol langsung dengan warga setempat tanpa interupsi notifikasi.

Pada akhirnya, liburan itu adalah momen intim antara kamu, perjalananmu, dan ketenangan pikiranmu sendiri bukan konsumsi publik. Keindahan sebuah destinasi wisata gak bakal berkurang sedikit pun cuma karena kamu gak membagikannya di feeds. Jadi, yuk Rekan Buana, di liburan selanjutnya, coba deh turunkan layar HP-mu, nikmati keheningan yang ada, dan rasakan betapa bahagianya menjadi orang yang tertinggal dari bisingnya dunia maya. Selamat menikmati JOMO!