Dengerin lagu-lagu hits dan berita terupdate hanya di Radio Mercu Buana.

Dilema Working Vacation: Liburan tapi Sambil Kerja, Apakah Beneran Healing atau Malah Tambah Pusing?

Sumber : Freepik
Sumber : Freepik

Pernahkah Rekan Buana membayangkan bekerja sambil memandangi deburan ombak di pantai Bali, atau mengetik laporan di sebuah kafe estetik berlatar pegunungan sejuk di Bandung? Konsep yang dikenal sebagai working vacation atau workation ini belakangan menjadi tren populer di kalangan pekerja muda dan pencipta konten. Liburan sambil tetap produktif terdengar seperti sebuah rencana yang sempurna. Namun, apakah tren ini benar-benar menjadi solusi untuk melepas penat (healing), atau justru menjadi bumerang yang membuat kepala makin pusing?

Fenomena ini sejatinya lahir dari pergeseran sistem kerja modern pascapandemi yang beralih ke sistem remote atau hybrid. Banyak perusahaan kini membebaskan karyawannya untuk bekerja dari mana saja. Peluang inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh banyak orang untuk melakukan working vacation. Alih-alih mengambil cuti penuh, mereka memilih memboyong laptop dan pekerjaan mereka ke destinasi wisata demi mendapatkan suasana baru yang menyegarkan pikiran.

Sumber : Freepik
Sumber : Freepik

Namun, di balik keindahan foto-foto laptop dengan latar belakang estetik yang sering Rekan Buana lihat di media sosial, ada realitas yang cukup menguras energi. Masalah terbesar dari workation adalah kaburnya batasan antara waktu istirahat dan waktu kerja. Ketika jam kerja selesai, tidak jarang beban pikiran tentang tenggat waktu (deadline) tetap membayangi, sehingga waktu yang seharusnya digunakan untuk menikmati liburan justru tersita oleh kecemasan. Akibatnya, alih-alih mendapatkan kesegaran mental, Rekan Buana justru berisiko mengalami burnout yang lebih parah karena tubuh tidak pernah benar-benar beristirahat.

Sumber : Freepik
Sumber : Freepik

Lalu, bagaimana cara menyiasatinya agar working vacation tidak berubah menjadi bencana? Kuncinya terletak pada manajemen waktu dan komitmen yang tegas. Jika Rekan Buana ingin mencoba tren ini, buatlah jadwal yang ketat. Misalnya, dedikasikan waktu dari pagi hingga siang hari khusus untuk menyelesaikan semua pekerjaan, dan kunci rapat-rapat laptop setelah masuk waktu sore untuk benar-benar menikmati destinasi wisata. Selain itu, pastikan tempat tujuan memiliki koneksi internet yang stabil agar pekerjaan tidak terhambat dan memicu stres baru.

Pada akhirnya, working vacation bisa menjadi opsi healing yang menyenangkan jika dikelola dengan bijak. Namun, Rekan Buana juga harus jujur pada diri sendiri. Jika tubuh dan pikiran sudah benar-benar lelah, mengambil cuti total tanpa gangguan notifikasi pekerjaan tetaplah bentuk self-care terbaik yang tidak bisa digantikan oleh tren liburan apa pun.

Bagaimana, Rekan Buana? Tentang Pembahasan kali ini semoga bisa bermanfaat buat Rekan Buana ya.