Dengerin lagu-lagu hits dan berita terupdate hanya di Radio Mercu Buana.

“Quietcation: Tren Liburan 2026 yang Mengajak Kamu Rehat dari Kebisingan Dunia”

Sumber : Freepik
Sumber : Freepik

Halo Rekan Buana! Pernah nggak sih kamu merasa kalau liburan justru bikin badan makin capek? Berkejaran dengan jadwal, antre di tempat wisata yang penuh sesak, sampai pusing mikirin konten buat media sosial. Kalau iya, berarti kamu lagi butuh penawar stres yang satu ini.

Di tahun 2026, ada pergeseran besar dalam cara kita menikmati waktu luang. Selamat tinggal itinerary yang padat! Kali ini kita kenalan dengan “Quietcation”—tren liburan terbaru yang mengajak Rekan Buana untuk mengutamakan ketenangan, keheningan, dan pemulihan jiwa. 

1. Apa Itu Quietcation?

Secara harfiah, quietcation adalah gabungan dari kata quiet (tenang) dan vacation liburan. Berbeda dengan liburan konvensional yang berfokus pada petualangan atau hiburan, quietcation berfokus pada apa yang tidak kamu lakukan.

Tren ini mengajak Rekan Buana untuk sengaja menjauh dari hiruk-pikuk perkotaan, mematikan notifikasi gawai (digital detox), dan mencari destinasi yang menawarkan keheningan absolut. Tujuannya satu: memberikan ruang bagi pikiran untuk benar-benar beristirahat.

Sumber : Freepik
Sumber : Freepik

2. Mengapa Tren Ini Meledak di Tahun 2026?

Bukan tanpa alasan quietcation menjadi primadona tahun ini. Setelah beberapa tahun terakhir kita dibombardir oleh kecepatan teknologi, AI yang makin mendominasi keseharian, dan budaya always-on (selalu terhubung), manusia mulai mencapai titik jenuh digital.

Beberapa pendorong tren ini yang pasti juga sering dirasakan oleh Rekan Buana antara lain:

1. Burnout Mental: Tingkat stres aktivitas yang tinggi membuat orang mendambakan tempat tanpa gangguan.

2. Kejenuhan Media Sosial: Keinginan untuk menikmati momen tanpa harus memamerkannya secara real-time.

3. Kesadaran Kesehatan Mental: Banyak yang mulai paham bahwa otak butuh fase offline total untuk regenerasi.

3. Karakteristik Utama Liburan ala Quietcation

Bagaimana sebuah perjalanan bisa dikategorikan sebagai quietcation? Berikut adalah beberapa ciri utama yang perlu Rekan Buana ketahui:

  1. Destinasi yang Terisolasi dan Tenang Jika liburan konvensional biasanya mengarah ke kota besar atau tempat wisata yang sedang viral, quietcation justru mencari tempat sebaliknya. Destinasi idealnya adalah desa terpencil, kabin di tengah hutan, atau resor wellness yang jauh dari kebisingan kota.

  2. Aktivitas yang Minim dan Lambat (Slow Living) Bukan berburu taksi, mengantre kuliner yang padat, atau berpindah-pindah tempat belanja. Aktivitas dalam quietcation sangat sederhana dan menenangkan, seperti membaca buku, meditasi, atau sekadar jalan kaki santai menikmati alam sekitar (silent walking).

  3. Konektivitas yang Terbatas (Digital Detox) Alih-alih sibuk mencari sinyal 5G atau Wi-Fi kencang untuk memperbarui status, pelaku quietcation justru sengaja memilih tempat yang minim sinyal atau akomodasi yang menerapkan aturan bebas layar (screen-free).

  4. Fokus pada Hasil Internal (Inner Peace) Tujuan akhir dari liburan ini bukan untuk mendapatkan tumpukan foto estetis demi konten media sosial. Output utama yang dicari oleh Rekan Buana setelah melakukan quietcation adalah pikiran yang kembali jernih dan energi mental yang terisi penuh.

    Sumber : Freepik
    Sumber : Freepik

4. Ide Destinasi dan Aktivitas untuk Memulai Quietcation

Rekan Buana tidak perlu pergi ke tempat yang sangat mahal untuk menikmati tren ini. Kuncinya adalah isolasi yang nyaman. Beberapa aktivitas yang bisa dicoba meliputi:

1. Kabin Terasing di Tengah Alam

Menyewa kabin kayu di area pegunungan atau tepi danau sepi. Di sini, suara alarm digantikan oleh kicauan burung dan gemerisik daun.

2. Digital Detox Retreat

Banyak akomodasi di tahun 2026 yang menawarkan paket khusus di mana tamu wajib menitipkan ponsel di resepsionis selama menginap. Gantinya? Rekan Buana akan difasilitasi dengan kelas yoga, melukis, atau sekadar menikmati teh di beranda.

3. Savoring the Slow Life

Belajar menerapkan slow living. Masak makanan sendiri dengan bahan lokal, menyeduh kopi secara manual tanpa terburu-buru, dan tidur tanpa gangguan alarm.

Quietcation membuktikan bahwa terkadang, bentuk kemewahan tertinggi adalah kesunyian. Liburan ini bukan tanda bahwa kita melarikan diri dari masalah, melainkan sebuah tombol reset agar bisa kembali menghadapi rutinitas dengan versi diri yang lebih tenang, fokus, dan bahagia.

Jadi, bagaimana dengan kamu, Rekan Buana? Tertarik untuk menjadwalkan quietcation-mu sendiri dalam waktu dekat?